Looking To You – Chapter 2

lty fb

“Hai, Dave. Mencari Darren?” sapa sekretarisku Diane pada David Sebastian Steel –begitulah namanya- yang baru saja keluar dari pintu lift menuju kantorku.

“Hai Diane, ya seperti biasa. Sudah saatnya permainan dimulai lagi” seringai David menggoda pada Diane.

David selalu berusaha untuk menggoda Diane, dan dia tak pernah berhasil. Diane selalu menolaknya dengan alasan laki-laki itu terlalu liar. Haha aku tak bisa lebih setuju dengan pengumpaan Diane terhadap David. Laki-laki itu memang..ehm..liar.

Kuperkenalkan pada sahabat karibku, sahabat dalam kehidupan kelamku, dalam kehidupan terangku dan dalam kehidupan remang-remangku. Mungkin kau akan bertanya-tanya apa maksudku dengan warna-warna lampu yang aku katakan mengenai hubunganku dengan David, well.. kau akan mengetahuinya sambil lalu.

David Sebastian Steel, begitu nama lengkapnya. Usianya tak berbeda dariku, dua puluh tujuh tahun menjelang dua puluh delapan. Tampan, maskulin, seksi dan kaya –begitulah yang aku dengar dari wanita-wanita yang dia kencani- kami selalu pergi bersama ke klab malam, bar, diskotik dan sejenisnya.

Dia penggaet wanita sejati, mulutnya begitu manis, wanita manapun yang dia inginkan akan mudah terjatuh dalam pelukannya. Seperti Don Juan.

Dia juga memiliki beberapa bisnis kasino di Vegas dan klab malam di New York, tempat kami biasa berkumpul melakukan kehidupan remang-remang kami. Namun bisnis yang sesungguhnya diseriusinya adalah pabrik pembuat alat-alat medis yang diwarisinya dari ayahnya.

Ya, dia juga adalah seorang lulusan fakultas kedokteran yang tak pernah memulai general prakteknya karena terlalu senang mengejar dollar dari bisnis kasino dan klab malamnya. Menjadi seorang dokter tak akan memberikanmu kekayaan seperti yang dia miliki sekarang.

“Aku penasaran kemana kau mengajak Darren setiap malam minggu pada akhir bulan Dave” tanya Diane pada David yang menyeringai.

“Kau ingin tahu, Diane? Kau bisa ikut bila kau mau. Akan sangat menyenangkan tentunya bila kau bisa ikut. Meski akan mengurangi arti dari permainan itu sendiri” David menyentuh dagu Diane dengan jari tangannya. Dengan nakal mencium bibir sensualnya sebelum Diane sadar apa yang dia lakukan.

David tergelak masuk ke dalam kantorku, dibelakangnya aku melihat Diane berkacak pinggang marah padanya.

“Hei, kau datang” kataku, mengalihkan pandanganku dari layar laptop di mejaku.

“Malam ini? Pukul sebelas seperti biasa?” tanya David padaku, dia sedang meneliti tumpukan file-file yang belum aku periksa.

Pekerjaanku belum sepenuhnya selesai, dan ini akhir minggu. Aku tak punya waktu untuk menyelesaikannya. Dan kepalaku sudah hampir meledak. Aku perlu refreshing, sedikit bersenang-senang dan mengendurkan otot-ototku yang tegang. David tahu benar apa yang aku perlukan. Apa yang kami perlukan.

“Ya, tentu saja. Kau sudah ada barangnya?” tanyaku tanpa melepaskan pandanganku dari layar laptop.

“New and smooth.. Barang baru dan masih mulus.. Kau pasti suka” dia menyalakan sebatang rokok dan mengepulkan asapnya dengan nikmat.

“Oh, yeah. Sangat menarik. Aku tak sabar lagi. Nanti malam jam sebelas? Aku pasti disana. Jangan mulai tanpaku, ok?” kini aku ikut menyeringai seperti David. Kebiasaan yang kami lakukan hampir dua tahun ini memang mampu mengalihkan stres pekerjaan yang aku miliki.

David mematikan rokoknya di asbak, kemudian berjalan keluar pintu kantorku.

“Kau tak akan menyesal, aku sudah mencobanya” seringai licik muncul diwajahnya.

Setengah bergurau aku mengumpat padanya. “Sial. Kau sungguh licik, Dave. Kaleng sarden telah terbuka dan kau menawarkan itu padaku?”

“Aku yakin kau tak akan keberatan, Darren. See you when I see you then” katanya sebelum menutup pintu kantorku.

***

Klab malam ini begitu ramai pada akhir minggu, penuh sesak hingga aku kebingungan mencari arahku. Meski klab ini milik David, kami hanya menggunakannya sebagai tempat berkumpul dan tak pernah benar-benar clubbing disini. Kami selalu melakukannya di sebuah kamar khusus karena tak ada yang akan mengganggu dan letaknya disisi jauh dari bangunan klab ini. Terisolir dari keramaian pekerja dan pelanggan, mewah, lengkap dan kedap suara. Tempat yang paling sempurna untuk mengadakan ritual bulanan kami.

Kepala David menyembul dari pintu ruangan itu, seringai lebar masih menghiasi wajahnya.

“Hei, kau terlambat” katanya saat aku mendudukkan pantatku di atas sofa hitam licin yang empuk.

Udara dingin dari pendingin ruangan menerpa kulitku, seketika amarahku terangkat karena perjalanan yang sangat menyebalkan di dalam klab malam tadi. Begitu banyak manusia yang mabuk dan berkelakuan buruk kulintasi di dalam sana.

“Yeah, dan aku selalu tersesat mencari ruangan ini. Mengapa kau membuatnya begitu rumit untuk mencarinya?” sungutku sambil melonggarkan dasi ku, mengambil lebih banyak udara dingin untuk menurunkan suhu tubuhku yang panas.

“Kau tahu sendiri, Darren. Tak rumit, maka tak menarik, Man” dia menyodorkanku segelas Red Label dalam es.

“Cheers..” katanya.

“Cheers.. dimana barangnya?” tanyaku sambil melayangkan pandangku ke seluruh ruangan.

Tak banyak yang berubah dalam ruangan ini, meski aku hanya berada disini sekali sebulan, namun setiap inchinya telah tergambar di kepalaku. Semua sudut ruangan dan tempat-tempat strategisnya telah kami jelajahi dan tak ada satu spot pun yang tertinggal. Mencari rasa terbaik yang mungkin kami dapat.

Tak ada yang bisa mengalahkan permainan di atas sofa yang kududuki ini tentunya. Ranjang putih lebar yang muat untuk enam orang hampir tak pernah kami sentuh. Lantai dengan karpet tebal berulangkali telah menorehkan memar-memar dipunggungku yang telanjang saat kami melakukannya dengan ganas, petualangan yang amat buas dan aku menyukainya seperti itu, sekali-sekali.

Oh ya, sebuah meja datar panjang, salah satu tempat kesukaanku. Biasanya aku akan berada dibawah dan David akan melakukannya dari atas.

Kau tahu maksudku? Bila tidak, tak usah kau tebak hingga kau mengerti. Aku tak seperti yang kau kira, mungkin sedikit..

“Sebentar lagi. Ah, aku rasa ini dia” kata David sambil beranjak membuka pintu untuk menyambut “barang” yang kami maksud.

Aku bersiul-siul rendah saat melihat barang yang David maksud. Dia tak pernah mengecewakanku dengan seleranya. Bisa dibilang, selera kami hampir sama, meski dia sedikit lebih kasar karena aku lebih suka melakukannya dengan pelan dan lembut.

“Bagaimana, Darren? Cocok?” tanyanya dengan sombong.

“Fantastis, Dave. Seperti biasa, kau siapkan semuanya dan aku akan membersihkan tubuhku dulu. Terlalu sayang untuk dipakai satu sesi saja, ha?” tawaku licik.

“Kau menebak pikiranku. Take your time, Man. Saat kau disini, semua akan siap dan kita bisa mulai sesi pertama” David pun membawa barang itu masuk ke dalam ruangan. Melakukan apa yang biasa dilakukannya.

Air hangat membasahi ujung rambutku hingga ke kaki, busa sabun yang aku gosokkan pada tubuhku perlahan-lahan menipis tersiram air shower. Memperlihatkan tubuh telanjangku di cermin lebar yang ada dikamar mandi itu. Terdapat sebuah bekas luka tembakan pistol di dada kananku, yang aku dapat lima belas tahun lalu. Saat Ibuku meregang nyawa di depan mataku.

Advertisements

words from you

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s