Loves In The Parks 3 – TENTH DRAMA – Chapter 1

we

 

Jung Nam menyesap rokoknya yang tinggal setengah, memeriksa pakaian jas rangkap tiganya dan menyisir rambutnya dengan tangan, mengatur ujung rambutnya yang telah rapi sambil sesekali menoleh pada cermin di depannya.

 

Jas warna hitam kecoklatan, dasi yang sepadan dengan gelapnya jas yang dia pakai, kemeja putih yang tersetrika rapi tanpa cela dan seutas sapu tangan putih menonjol ujungnya dari saku jas nya yang juga terselip sebatang mawar merah.

 

Dia lah laki-laki tertampan diruangan itu, paras rupawan, senyum menyeringai bangga dengan penampilannya yang terpantul dari cermin di depannya, Jung Nam mengangguk puas dengan hasil riasan penata rambutnya.

 

“Bagaimana.. Kamu terlihat tampan, kan? Tidak percuma kan kamu memanggilku dari Italia?” senyum manja Antonio, penata rambut sekaligus teman dekat Jung Nam yang dikenalnya saat berlibur di Italia beberapa tahun yang lalu. Laki-laki ini terlihat cukup feminim bila disebut laki-laki.

 

“Not bad, grazie Antonio..” Jung Nam tak dapat menyembunyikan seringai senang dari wajahnya. Antonio pun dengan lemah gemulai menepis pujian Jung Nam lalu merapikan alat-alat riasnya.

 

“Wah..wah.. Tak disangka kamu bisa terlihat ehm.. baik” Jung Min menyeringai melihat penampilan adiknya.

 

Dibelakangnya berdiri Ji Han, istrinya yang sedang menggendong anak mereka, Park Young Jin yang baru berusia dua bulan. Anak laki-laki mereka sedang terlelap dalam pangkuan ibunya.

 

“Bagaimana mungkin kamu mengatakan ini baik? Dia terlihat sangat tampan” bela Ji Jeong, seringai dibibirnya tak kalah lebarnya dengan seringai di wajah iparnya, Jung Min.

 

“Jeong.. Kak Jung Nam mana?” panggil Jung In yang berjalan tergopoh-gopoh dipandu ibunya, Nyonya Park.

 

“Istriku, mengapa kamu juga kesini? Sudah kubilang duduk saja disana, nanti juga Jung Nam akan menemui kalian” Ji Jeong memeluk bahu istrinya Jung In dengan cemas.

 

“Ya.. Aku kan ingin melihat kak Jung Nam juga” kata Jung In cemberut.

 

“Iya..iya..maafkan aku” senyum Ji Jeong pada istrinya yang keras kepala.

 

“Ya! Kalian semua kesini hanya untuk meledekku?” sungut Jung Nam sebal.

 

Seluruh keluarganya datang menghadiri sesi pemotretan yang akan dia lakukan sebentar lagi.

 

Mereka pun tergelak, Park Jung Nam dengan salah tingkah memperbaiki sisiran rambutnya karena mendapat begitu banyak perhatian dari keluarga dan orang-orang kameramen yang menonton dari luar ruang rias.

 

“Baiklah, mempelai wanita sudah siap, apakah mempelai prianya sudah siap juga?” tanya pengarah gaya yang muncul dari belakang mereka.

 

“Ehem.. Satu menit lagi” kata Jung Nam, mengisyaratkan Antonio untuk memeriksa penampilannya sekali lagi sebelum keluar dari ruangan itu dan bergaya di depan kamera untuk pengambilan foto preweddingnya.

 

“Kamu luar biasa, dan kamu akan baik-baik saja. Memukau. Buatlah mereka terpukau” bisik Antonio ditelinga Jung Nam.

 

Jung Nam membersihkan tenggorokannya, berdehem dan berjalan melewati keluarganya yang memandangnya kagum.

 

“Kalian tak ingin datang kesini sia-sia, kan? Maka saksikanlah penampilan Park Jung Nam di depan kamera” seringai jahil terlihat diwajahnya lagi.

 

“Tsk..tsk..tsk.. Percaya diri overloaded..” teriak Jung Min pada Jung Nam yang mengangkat tangannya melambai mengacuhkan kata-kata Jung Min.

 

Seluruh keluarganya kemudian beranjak dari sana, dan mengambil tempat di kursi yang telah disediakan untuk melihat-lihat pengambilan foto Jung Nam dengan mempelai wanitanya.

 

“Wah.. Pakaian pengantinnya cantik sekali.. sayang ya, dulu aku tidak memiliki banyak waktu untuk memilih yang lebih bagus..” kata Jung In sedih sambil mengelus perutnya yang membusung. Kini Jung In sedang mengandung tujuh bulan.

 

“..Nanti kita bisa mengadakan pesta pernikahan lagi kalau kamu mau, istriku..” hibur Ji Jeong padanya, namun Jung In tetap merengut dan mengatakan dia hanya ingin menikah satu kali saja dengan Ji Jeong. Dan suaminya itupun menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Kebingungan mencari jawaban untuk istrinya.

 

“Baiklah, mempelai pria dan mempelai wanita silahkan berdiri berdekatan, kita akan mengambil foto dari arah kanan terlebih dahulu, kemudian pengarah gaya akan mengatur sudut mana yang akan ditonjolkan, mohon agar mengikuti arahan ya” kata kameramen sambil menyiapkan kamera dan lampu-lampu flash yang akan dia pakai untuk membantunya mengambil gambar terbaik.

 

“Boleh juga gayanya si Jung Nam. Mengapa tidak terpikir oleh kita untuk membuat foto prewed dulu, istriku?” keluh Jung Min pada istrinya.

 

“..Aku rasa kita memiliki foto-foto pernikahan yang bagus. Atau mungkin kita bisa memiliki foto post wedding? Tapi dengan berat badanku yang naik, gaun pengantinku tak akan muat lagi” jawab Ji Han sedih.

 

“Nanti kita buatkan gaun yang baru untukmu, ok?” senyum Jung Min menghibur istrinya. Ji Han pun mengangguk. Mereka nampaknya cukup terpengaruh oleh sesi pemotretan prewedding yang dilakukan Jung Nam dengan pasangannya.

 

Dua jam kemudian, bukan hanya para penonton yang bosan mengikuti sesi pemotretan itu, Jung Nam dan pasangannya pun terlihat mulai kesal dan kelelahan. Dengan tak sabar Jung Nam melepaskan dasinya, membuka kancing jas dan rompinya kemudian duduk di samping ibunya, menyalakan sebuah rokok, lalu dihembuskannya asap putih itu dengan kencang, seolah sesi foto itu hanya membuatnya frustasi.

 

“Ya, kenapa kamu sudah selesai? Masih sisa satu sesi lagi sebelum selesai” kata Jung Min pada adiknya.

 

“Kenapa tidak kamu saja yang berdiri berjam-jam disana? Aku menyerah. Sudah cukup pengorbananku. Entah siapa yang memiliki ide seperti ini. Apa tidak bisa kalian menyewa model profesional dan bukannya menyuruhku untuk berfoto seperti ini? Bagaimana kalau orang-orang mengira aku akan menikah? Bagaimana kalau tidak ada wanita yang mau mendekatiku lagi karena mengira aku sudah menikah?” kata Jung Nam kesal.

 

Kakinya pegal berdiri selama dua jam tanpa istirahat. Dia memandang iba pada pasangan mempelai wanitanya yang kini sedang duduk dikursi jauh darinya, diperbaiki riasannya oleh Antonio.

 

“Ya.. Bukankah itu cara promosi paling bagus? Kamu bisa terkenal, dan mungkin lebih banyak lagi wanita yang akan kamu dapatkan” kedip Jung Min pada adiknya.

 

“Jiss.. Aku bisa mencari wanita untukku sendiri tanpa perlu bantuanmu. Ngomong-ngomong, siapa yang menjadi mempelai wanitanya?” tanya Jung Nam lagi.

 

“Ehm.. Kalau tidak salah, dia itu salah satu pegawai yang terpilih untuk menjadi model pendampingmu. Rencananya akan ada dua model, namun model satunya lagi ternyata sudah menikah, dan mereka belum mendapatkan gantinya, jadi untuk sementara kita pakai yang ada saja. Kenapa?” Jung Min kini mengikuti arah pandangan Jung Nam pada model mempelai wanita itu.

 

“Tak apa. Dia cantik” senyumnya.

 

“..Jangan kamu membuat skandal dengan pegawai. Jangan merusak nama baik perusahaan” nasehat kakaknya. Jung Min tahu Jung Nam hanya memandang wanita itu sebagai salah satu selingan mingguannya.

 

Jung Nam tergelak, heran dengan kekhawatiran kakaknya.

 

“Ya.. Apa menurutmu aku seperti itu? Aku tak sembarangan memangsa wanita. Tsk..tsk..tsk..”

 

“Aku hanya menasehatimu, kita tak ingin para karyawan bergosip yang tidak enak tentang manajemen mereka”

 

“Ya..ya.. Aku tahu..” Jung Nam menyesap rokoknya lagi, mengacuhkan nasehat kakaknya yang selalu merecokinya dengan kata-kata yang tak ingin di dengarnya.

 

Sejak Jung Min dan Ji Han menikah, Jung Nam tak pernah terlihat berhubungan dengan wanita manapun, meski tanpa henti dia masih membawa wanita-wanita berbeda untuk berkencan dengannya seminggu atau dua-tiga minggu sekali. Hanya untuk melampiaskan gairah dan kepenatan kerjanya yang melelahkan.

 

“Kapan kamu akan kembali ke Seoul?” tanya Jung Min.

 

“Nanti malam, setelah pabrik di Incheon beres, nampaknya hanya Seoul yang harus diperbaiki. Setelah itu aku bisa kembali ke Ulsan. Tapi mungkin aku akan berada di Seoul lebih lama” katanya sembari memandang wajah kakaknya.

 

“Mengapa begitu?”

 

“Tak ada wanita cantik lagi di Ulsan” kekeh Jung Nam sambil berlalu dari sana, menemui Antonio untuk membersihkan riasannya.

 

Dari sudut matanya, Jung Min dapat melihat adiknya memberikan sebuah kartu nama untuk mempelai wanitanya yang diajaknya berfoto tadi. Dan kakaknya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Rupanya nasehat-nasehat yang dia berikan sudah tak mempan lagi mempengaruhi diri Jung Nam. Jung Nam yang liar, yang pemberontak, yang semau dirinya mungkin akan muncul kembali.

Advertisements

One thought on “Loves In The Parks 3 – TENTH DRAMA – Chapter 1

words from you

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s