Looking To You – Chapter 1

hug21

Pernahkah kau merasa begitu menginginkan seseorang namun menahannya hingga keinginan itu pelan-pelan menghancurkan kewarasanmu dan merubahmu benar-benar menjadi seorang yang berengsek?

Well, itulah yang terjadi padaku sekarang. Tepatnya sejak Calley Conahan memasuki pintu kantorku dengan wajahnya yang lugu dan tanpa dosa, dengan setelan blazer membosankan yang tak akan pernah aku rasa menarik bila dikenakan oleh wanita lain.

Tapi wanita ini? Calley? Sedikit gerak-geriknya yang sekecil apapun menarikku bagai magnet dan perlahan-lahan menghancurkan pertahananku. Sudah dua setengah bulan sejak pertama kali dia bertugas menjadi Asisten Pribadiku, pekerjaan yang sebenarnya tak perlu bertemu denganku setiap hari.

Tetapi disinilah aku, mengaduk-aduk kantornya dan mendapati diriku duduk di atas meja kerjanya, merasa bersemangat untuk membuatnya kewalahan. Dengan memberikannya tugas-tugas yang bahkan Sekretarisku Diane akan menjengitkan mata saat aku mendiktekan pekerjaan-pekerjaan itu untuk Calley melaluinya.

Aku ingin memiliki alasan untuk bertemu dengannya, memiliki alasan untuk membuatnya sibuk dengan diriku. Dia selalu bersamaku, mengerjakan pekerjaan kecil sekalipun yang aku perintahkan. Bahkan pekerjaan-pekerjaan yang tidak termasuk dalam job descriptionnya. Dan jangan pernah menanyakan kriteria pekerjaan apa lagi yang ingin kumasukan ke dalam deskripsi pekerjaan yang aku ingin dia lakukan untukku.

Dengan senang hati aku akan menghapus butir-butir deskripsi itu dan menggantinya dengan deskripsi-deskripsi pekerjaan lain yang sangat aku inginkan dia kerjakan untukku.

Mungkin aku bisa mendiktekannya sedikit untukmu?

1.          Melayaniku di atas ranjang? Terdengar menggairahkan? Tidak?

2.          Atau mungkin melayaniku setiap saat di dalam suite kantorku saat jam kerja? Oh aku sungguh sangat tergoda untuk melakukannya sejak hari pertama kaki-kaki jenjang itu menginjak lantai kantorku dengan langkahnya yang membuat mataku membelalak. Hanya dengan memandangi lekuk tubuhnya bisa membuatku berdiri disana.

3.          Sex panas didalam mobil akan kutambahkan saat dia menemaniku makan siang. Dengan alasan harus mengerjakan perintah-perintah kecil lain, aku bisa memonopolinya seharian, mungkin sehari-semalaman. Ya..ya.. sehari-semalaman. Mungkin hingga pagi, dan di apartemenku setelahnya? Sebelum kami berangkat ke kantor? Dalam perjalanan menuju kantor? Shit!!

Aku tak bisa melanjutkan imajinasiku lagi. Darren Junior telah mendesak belahan celanaku hingga mata terlatih siapapun akan tahu apa yang sedang bergejolak dalam tubuhku sekarang.

Dan jangan katakan Diane harus tiba-tiba muncul di kantor kecil ini saat Darren Junior mengintip dari balik retsleting celana panjangku dengan lekuk kepalanya yang menyembul melalui terusan pahaku. Sekretarisku itu memiliki mata terlatih seperti elang, dia adalah teman kuliah kakakku Daniel, dan dia memiliki pengalaman dengan laki-laki lebih dari pengalamanku dengan wanita.

Meski dia tak pernah menggodaku, karena itulah aku senang mempekerjakannya. Dua orang dominan dalam hubungan seks tak akan membawamu kemana-mana selain ego yang saling menjatuhkan. Untungnya Diane tidak memperlihatkan hal itu di tempat kerja. Dia profesional.

Dan Calley.. Wanita ini selalu membuatku menarik nafas panjang, menahan gairahku yang selalu meledak-ledak disampingnya. Dan aku bersyukur dia hanya mengira aku terlalu marah karena pekerjaan-pekerjaan kantor yang tiada habisnya, bukan karena alasan lain seperti tatapan mataku yang begitu ingin menelanjangi tubuhnya dari pakaian jelek itu. Demi Tuhan, tak bisakah dia memakai pakaian lebih seksi sedikit?

Dan memporak-porandakan pertahananku lagi? Mungkin bukan ide yang baik. Aku pun mendengus.

Dia mengangkat kepalanya, menatapku yang mendengus. Sedikit kekhawatiran tersirat diwajahnya. Kertas-kertas file yang aku percaya tak berguna itu hanya mengalihkan perhatiannya dariku, dan aku tak suka. Ingin kurenggut kertas itu dan menyingkirkannya dari tangan Calley hingga aku bisa memuaskan nafsuku padanya.

Kantor kecil ini cukup luas untuk kami berdua, cukup nyaman untuk melakukannya di atas meja, atau bersandar pada dinding, mungkin pada daun jendela dan menempelkan pantatnya yang pasti seksi itu pada kaca transparan dan tak perduli ada yang akan melihatnya –karena gedung perkantoran milikku berada di lantai tigapuluh, siapa yang cukup gila untuk mengawasi kami?-  atau mungkin dia bisa duduk diatas pangkuanku saat aku sibuk bermain dengan payudaranya yang menggiurkan.

Calley Conahan, kau membuatku gila!

“Sore ini, bertemu klien di restoran The Altavoire, Calley? Aku ingin kau mengikutiku. Ada pekerjaan untukmu” kataku dari atas meja kerjanya. Sudah lima menit lebih aku duduk disana memperhatikan gerakan tubuhnya yang naik turun seirama dengan nafasnya.

Mencium wangi jasmine dari tubuh Calley merusak seluruh indera tubuhku. Apakah di dalam sana wangi jasmine itu masih akan tercium.. Aku sangat ingin mengetahuinya, sekarang.

Tapi aku hanya mengerang, siksaan ini akan semakin berat setiap harinya.

“Ok, Darren” jawabnya sekilas. Dia tak tersenyum padaku, aku tak menyalahkannya.

Setelah berhari-hari aku kehilangan kewarasanku karena masalah pekerjaan yang tak beres dan penundaan pengiriman barang lima puluh container menuju Milan, Italia, siapa yang tak akan murka? Dan Calley lah sasaran semua kemarahanku.

Mungkin aku terlalu berlebihan, dia berada disana, di kantorku, pada saat yang tidak tepat. Saat aku menutup telephoneku dengan marah, dan dia masuk ke dalam kantorku dengan setelan membosankan itu lagi, yang begitu ingin kucabik-cabik hingga tak berbentuk.

Ya, sore itu.. setengah bulan yang lalu… Saat dengan marah aku menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Mencium bibir perawannya –well, aku tak tahu bila dia masih perawan, melihat dari penampilannya aku ragu dia pernah memiliki kehidupan seks diatas ranjangnya, atau mungkin aku salah, tak ada wanita seusia Calley perawan, sepanjang pengetahuanku- oh ya, bibir perawan itu terasa begitu manis, dan aku meneguknya seperti itu adalah cairan penyelamat hidupku, mengobati kehausanku pada bibirnya yang merekah indah, dan yang seringkali digigitnya bila aku memarahinya.

Hey, aku suka bila dia melakukannya, aku membayangkan mulutku lah yang menggigit bibir itu.

Calley tak berdaya dengan ciumanku yang penuh nafsu padanya, melepaskan semua frustasiku yang telah menumpuk sepanjang dua bulan itu padanya, masalah pekerjaanlah yang aku jadikan alasan saat lima menit kemudian bibir kami terlepas. Dengan nafas terengah-engah dan bibir yang membengkak panas aku meminta maaf padanya.

Dan aku beruntung dia tidak menamparku, tapi mengapa dia harus menamparku? Aku merasakan tubuh Calley meleleh dibawahku, tanganku menopang tubuhnya yang goyah akibat ciumanku.

Bila tidak ingat Daniel akan tiba di kantorku sesaat lagi, mungkin..mungkin dia sudah berada di atas ranjangku sejak saat itu.

Haha.. aku hanya menipu diriku sendiri, maukah Calley menjadi kekasihku? Minimal teman seranjangku? No way! Dia terlalu suci untuk menerima tawaran itu. Wanita yang setiap hari minggu ke gereja membaca bait-bait Tuhan ini tak akan mau berkeliaran telanjang di dalam apartemenku dan kusetubuhi sepanjang hari, sepanjang malam.

Yang hanya membuatku semakin geram. Dia tak tersentuh, Darren.. Begitulah yang selalu kuingatkan pada diriku.

Baru kuketahui ayahnya adalah seorang pendeta di sebuah Gereja kecil di salah satu distrik kota New York, dan ibunya seorang pemimpin dan pendiri yayasan panti asuhan yang telah mengadopsi anak-anak terlantar dari pemukiman kumuh di dekat kota Berkshire dan sekitarnya.

Orang-orang bersih dengan hati mulia, sangat jauh berbeda denganku. Aku.. laki-laki dengan masa lalu kelam yang bahkan mengingatnya pun tak ingin kulakukan. Bila kakakku Daniel tak disana, aku tak tahu apa jadinya hidupku lima belas tahun yang lalu, saat ibuku mati di depan mataku, karena laki-laki itu..yang sampai kini masih membusuk di dalam tanah kuburan yang basah, digerogoti cacing-cacing menjijikan.

Ya, aku senang mengetahui akhirnya dia telah mati!! Laki-laki itu, ayahku sendiri. Karena akulah yang telah membunuhnya..

Advertisements

6 thoughts on “Looking To You – Chapter 1

  1. Saya suka S̤̥̈̊мυ̲̣̥α cerita di blog ini….tapi Ɣ∂Ϟg paling berkesan buat ku adalah NSTL (Not So Tough Lady)

  2. waaaaaaaah….. Penasaran ma kelanjutannya ka, ceritanya ga ngebosenin dan sedikit kejutan diakhir ceritanya bikin tambah penasara…. bakal dilanjut kah ni ceritanya?

    Tetep ditunggu ya kak.. ^^

words from you

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s