My Last Autumn – Fifth Drama Prologue

“Sudah pukul empat sore lebih sepuluh menit namun wanita itu belum datang juga” bathinku bergumam. Semestinya dia telah tiba disini sepuluh menit yang lalu. Aku tak punya banyak waktu untuk menunggunya. Manejer Park pun tak mengangkat telephone nya membuat emosiku semakin bertambah.
Aku sudah harus berada distasiun televisi pukul enam sore dan waktuku tak banyak, tak mungkin aku melakukan’nya’ dalam sejam kan? Untuk berangkat ke stasiun saja perlu waktu setengah jam jika kendaraanku tak terjebak macet. 
Aku akan memotong bonus manajer Park karena kali ini pekerjaannya sungguh tak becus, padahal aku hanya menggunakan jasanya sebulan sekali dan dia sudah menghancurkan jadwal yang sudah kususun dengan rapi. Kalau begini aku harus mengulang kembali jadwalku yang sudah padat dan mencoba untuk mencari waktu yang tepat untuk melakukannya.
Aku menghirup habis rokokku dan beranjak keluar kamar hotel untuk melihat keluar, mungkin wanita itu tersesat dan lupa dengan nomer kamar yang aku beritahu pada manajer Park.
**
Wanita itu bertanya kepada salah seorang staf hotel yang sedang lewat, dia menanyakan letak ruangan konferensi yang digunakan oleh crew televisi untuk membahas pekerjaan mereka. Dia diberitahu agar menuju lantai lima, ruangannya berada diujung koridor kamar VIP.
Dilantai itu terdapat lima kamar VIP yang masing-masingnya memiliki desain kamar yang sama. Sebuah kamar tidur dengan Queen bed yang lebar, ruang tamu yang luas yang dilengkapi dengan mini bar dengan berbagai jenis minuman beralkohol berderet pada lemari etalase dibelakangnya yang disorot dengan lampu berwarna kuning yang memantulkan cairan keemasan dari dalam botol-botol minuman itu.
Sofa mewah yang empuk dengan lapisan wol membungkusi permukaannya serasi dengan permadani tebal berwarna biru elegan yang menutupi lantai marmer dibawahnya. Vas-vas bunga menghiasi setiap sudut ruangan, meja dan kamar tidur dengan beraneka jenis bunga mawar, melati, krisan dan sedap malam dengan aromanya yang lembut mengisi seluruh ruangan didalam kamar VIP itu.

Diluarnya, wanita itu sembari membaca kembali kertas yang ada ditangannya memperhatikan nomer-nomer kamar dan papan tanda yang dia lewati ketika seorang laki-laki memanggilnya. Dia pun menoleh dan mendekati laki-laki itu.

Advertisements

words from you

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s