Fifth Drama – Epilogue – Happy Ending

Sebulan kemudian kami pun meninggalkan tempat ini. Selama disini, Asisten Joon dan diriku belajar banyak keahlian baru. Menaiki tangga untuk memperbaiki atap yang rusak, mengganti genteng-genteng yang telah bocor, mengecat ulang tembok rapuh itu dengan putus asa, mencangkul lahan untuk ditanami kentang, bahkan kami ikut menangkap ikan di danau.
Kondisi Hye sun pun mulai membaik, dia kembali sehat dan wajahnya bersinar. Dia selalu menertawakanku saat duduk dengan putra kami di halaman belakang ketika aku menangkap belut dari sawah. Belut-belut ini memang licin dan gesit, pakaianku penuh lumpur dan sekujur tubuhku pun terlihat sama mengerikannya.

Tempat ini adalah tempat penuh kenangan. Disinilah Hye sun ku melewati hari-harinya bersama bayi kami di dalam kandungannya. Disinilah aku menemukan Hye sun ku kembali. Disinilah buah hati kamu lahir. Aku tak akan melupakannya, aku akan kembali kesini. Kami akan kembali kesini.
Terbayang dalam kepalaku saat hari itu tiba, gedung bobrok ini akan berubah menjadi salah satu gedung rumah sakit paling lengkap di Korea. Dokter tua itupun bisa beristirahat dengan tenang dibalik meja kerjanya sebagai direktur rumah sakit itu, ibu-ibu perawat itu juga akan memiliki junior-junior baru yang bisa mereka plonco.  Dan tak akan ada lagi biaya yang diperlukan untuk berobat disini. Semuanya akan ditanggung oleh stasiun televisi BBC.
Aku pun tersenyum, setelah berpamitan dengan seluruh penghuni rumah sakit itu kami pun pergi meninggalkan hati kami disana. Kepada orang-orang yang tulus membantu tanpa pamrih dengan hati mereka yang murni. Kalian memberikanku satu pelajaran lagi, kawan.
Di Seoul, setelah menghuni rumah baru yang telah ditata dengan rapi dan lengkap dengan furniturenya, tak lupa celengan-celengan babi itu kini berderet di depan pintu masuk rumah kami, menyambut setiap tamu yang datang pada pesta pernikahan kami.
Musim gugur ini anak pertama kami yang lahir di kota kecil Jeon-nam kini berusia dua tahun, Lee Jeon Nam nama nya. Awal tahun depan Jeon Nam akan memiliki seorang adik perempuan yang cantik. Secantik ibu mereka.
Aku pun mengelus perut istriku yang cantik, Jeon Nam tidur pulas dalam pangkuanku. Lima bulan lagi anak kedua kami akan lahir. Aku sudah tak sabar untuk menyambutnya. Kami pun berciuman mesra disaksikan oleh sepasang burung bangau yang sedang mampir dan bercengkrama di areal kebun.
Advertisements

words from you

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s