Fifth Drama – Chapter 18

Saat mentari pagi bersinar, hujan semalam mulai reda. Tanah, jalan, rumah-rumah dan pepohonan basah karena derasnya hujan. Air sungai yang mengalir di samping jalan raya pun deras dan kencang. Pukul enam pagi tapi kota ini masih lengang. Hanya satu dua orang tua yang terlihat sedang mengayuh sepeda di jalan raya. Mereka memandangku penuh tanda tanya.
“Suamiku.. sudah sejak malam dia berlutut diluar sana. Dia pasti kedinginan, hujan semalam sangat deras. Kamu bisa membunuhnya” ibu pemilik mini market mengintip dari jendela toko nya dengan cemas.

Suaminya masih kukuh dengan keputusannya. Dia hanya memandangku sekilas, namun demikian wajahnya yang keras mulai terlihat melunak.
Sinar matahari menghangatkan tubuhku yang membeku. Cuaca yang tak bersahabat ditambah derasnya hujan membuat tubuhku menggigil kedinginan hingga ke dalam relung tulangku. Gigiku bergeretak, tubuhku kaku. Aku bahkan tak bisa menggerakan jari-jari tanganku. Hanya kemeja dan jaket yang telah basah kuyup yang kupakai.
Asap kabut keluar dari mulut dan hidung dalam setiap helaan nafasku. Sebentar lagi tubuhku akan roboh dan tak akan ada yang memperdulikannya. Dalam keletihanku, aku merasa seluruh bebanku terangkat. Aku seolah melihat Hye sun sedang tersenyum di depan mataku. Dengan gaun putih bagaikan peri, senyumnya tersungging, tangannya menjangkauku. Ketika pandangan mulai mengabur, aku merasa tubuhku diselimuti oleh pelukan yang hangat.
~~~~
“Direktur Lee.. anda sudah siuman?”
Aku memandang Asisten Joon duduk disampingku. Tangannya memegang nampan makanan berisi mangkuk sup, tampak asap mengepul dari sup itu. Perutku yang keroncongan mulai berontak.
“Dimana aku? Tanyaku.
“Anda sedang berada di dalam kamar hotel, Direktur Lee. Sepasang suami istri memberitahu saya tentang anda kemudian kami memindahkan anda ke dalam kamar” dia memandangku iba.
“Dimana mereka? Aku ingin menemui mereka. Mereka tahu dimana Hye sun. Aku harus menemui mereka” rengekku.
“Tapi Direktur.. anda masih lemah. Anda berlutut semalaman dibawah hujan dan suhu yang dingin. Anda mengalami hipotermia, dokter melarang anda untuk bangun dari tempat tidur anda” katanya khawatir.
“Aku tak perduli, aku akan mencari mereka. Minggir” teriakku lemah.
Asisten Joon mencoba untuk menghalangiku dan memaksaku untuk berbaring. Seluruh tubuhku terasa nyeri, nafasku sesak. Namun aku berusaha menghalau tubuh Asisten Joon agar melepaskanku.
“Eheemm..” seseorang berdehem dibelakang kami.
Pak tua itu. Dia sedang berdiri di depan kamar hotelku, istrinya mendampinginya, senyum diwajahnya menyejukan hatiku. Merekapun duduk di depanku. Asisten Joon kemudian keluar dan menunggu di depan kamarku.
“Aku hanya heran, bila sebesar ini keinginanmu untuk mencarinya, kenapa dulu kamu tak mempertahankannya sebesar tekadmu sekarang?” tanya pak tua itu masih sedikit ragu denganku.
“…aku tak ingin mengatakan alasan ini sebagai pembenaran atas perbuatanku pada Hye sun. Tak ada yang bisa membenarkan perbuatanku padanya. Dan aku pun tak pantas untuk dimaafkan oleh siapapun. Namun, aku melakukan itu semua, menyakiti Hye sun dan mengusirnya yang sedang mengandung anak kami, tak lain karena aku kehilangan ingatanku tentang dirinya..setelah kecelakaan yang hampir menewaskanku setengah tahun yang lalu” kataku sambil menghela nafas.
Meski perih untuk mengingatnya lagi, namun aku harus menghadapi kenyataan bahwa semua telah terjadi dan kini aku siap untuk memperbaikinya. Pak tua itu memandangku, menimbang. Kemudian dia menganggukan kepalanya.
“Aku tak bisa menyalahkanmu bila itu alasanmu. Setidaknya sekarang semua sudah kembali, kurasa?” tanyanya sambil menunjuk kepalaku.
“Aku rasa begitu, tuan”  jawabku.
“Hmm.. baiklah. Aku juga tak ingin menghalangi kalian untuk bertemu. Aku hanya mengunjunginya sesekali. Namun, dia terlihat cukup menyedihkan. Termenung seharian dan lemah. Semangat hidupnya hilang. Persis seperti wajahmu saat ini” katanya lagi. Senyum mulai terukir di wajahnya. Istrinya pun mengelus lengannya menyetujui, mereka saling pandang, tersenyum.
“Saat itu dia sedang terduduk di atas bangku kantor pos. Aku mengira dia tertidur saat itu. Namun, aku melihat darah keluar dari bawah gaunnya. Aku dan beberapa orang lainnya kemudian membawanya ke rumah sakit di kota sebelah. Bila kamu kesana mengendarai mobil, berhati-hatilah, terutama dalam cuaca seburuk ini. Tikungannya cukup terjal dan jurang yang curam menunggumu dibawah” jelasnya.
“Anak kami..?? Bagaimana dengan anak kami? Apakah dia ke..gu..g…” aku tak sanggup melanjutkan pertanyaanku. Tenggorokanku tercekat, tak mampu bersuara.
“Lihatlah sendiri. Aku tak ingin merusak suasana” katanya sambil berlalu. Dia tersenyum puas. Nampaknya dia masih dendam padaku karena menelantarkan Hye sun.
Istrinya menghampiriku dan menghiburku.
“Maafkanlah suamiku, dia begitu karena sifatnya memang keras dan suka terbawa perasaan. Jangan khawatir.. jagoanmu sehat” dia kemudian memelukku erat.
“Jaga mereka ya, jangan pernah lepaskan lagi. Dan cepat sembuh, makan sup mu” lanjutnya.
Mereka kemudian meninggalkanku dan berpamitan pada Asisten Joon. Meski mencoba untuk memaksa tubuhku bergerak, mereka tak mau menurutiku. Seluruh sendi tubuhku menusuk-nusuk tajam. Tangan kananku pun sama saja.
“Asisten Joon!” panggilku.
Asisten Joon pun berlari tergopoh-gopoh menghampiriku setelah mengantarkan pasangan suami istri itu keluar.
“Direktur Lee..?” nafasnya tersenggal-senggal.
“Kita berangkat ke kota sebelah sekarang”
“T..tapi Direktur Lee.. anda tak bisa bergerak dan hari sudah petang, bila mengendara sekarang kita akan sampai tengah malam disana, dan kata mereka dikiri-kanan jalan banyak jurang..apa tidak lebih baik kita berangkat besok dan tenaga anda pun akan lebih baik” jawabnya cemas.
“Kita tak boleh membuang-buang waktu. Hye sun sedang hamil besar dan dia bisa sewaktu-waktu melahirkan. Kamu tak lihat kota ini? Mereka bahkan hanya punya satu rumah sakit kuno. Bila terjadi apa-apa saat persalinan, akan sudah terlambat untuk memindahkannya ke rumah sakit lain” teriakku.
“Tapii..tapii. Direktur Lee.. anda belum sembuh, bila anda memaksakan diri keluar sekarang hipotermia anda akan kambuh dan akibatnya sangat fatal.. saya mohon Direktur Lee.. saya akan menyiapkan semuanya dan mencari informasi tentang rumah sakit itu sehingga kita tak perlu bertanya-tanya lagi arah pasti menuju kesana. Saya mohon Direktur Lee, demi kesehatan anda” dia membungkuk di depanku.
Apa yang dia katakan semua benar. Tubuhku tak akan sanggup menahan suhu dingin udara malam ini. Belum lagi jalanan yang gelap dan berbahaya, bila salah sedikit saja maka kami akan mati sia-sia. Dan aku tak akan pernah melihat Hye sun lagi.
Akupun memejamkan mataku sedih. Aku terpaksa mengalah, besok..besok aku akan menjemputmu Hye sun. Asisten Joon yang melihat tubuhku mengendur, menawarkan sup yang dia bawa tadi. Aku pun mencoba mengecapnya meski terasa tawar dan lidahku ketir.
~~~~
“Cuacanya cukup cerah hari ini Direktur Lee. Kita akan tiba disana dalam dua jam” Asisten Joon mulai memasukan koper-koper kami ke dalam mobil.
Meski masih terasa nyeri, badanku mulai bisa digerakan. Akupun duduk dikursi penumpang disamping pengemudi. Kami berangkat pukul tujuh pagi, bila tak ada halangan, sesampainya disana aku sudah bisa melihat Hye sun lagi.
Bagaimana dia akan menyambutku? Maukah dia menemuiku? Aku takut bila dia bersembunyi dan menghindariku. Aku hanya berharap dia tak akan pergi saat mengetahui kedatanganku. Semoga masih tersisa sedikit cinta didalam hatinya untukku.
Mobil berjalan dengan kencang, Asisten Joon mengemudi dengan tenang. Dia memang tak pernah panik. Selalu berpikir dengan kepala dingin. Aku mengenalnya enam tahun lalu ketika dia masih menjadi pegawai magang di bagian olah data, sejak itu aku diam-diam mengetesnya dengan berbagai tugas yang hampir keseluruhannya bisa dia atasi.
Dan disinilah dia sekarang, menjadi asisten direktur utama stasiun televisi BBC. Dia menyediakan segala kebutuhanku baik dalam pekerjaan maupun diluar itu.
Pemandangan danau Gwangje terlihat dari sisi jalan menuju kota tempat Hye sun berada. Beberapa perahu nelayan yang sedang mencari ikan bersandar di pelabuhan. Jurang-jurang yang curam dan bukit yang landai sering menyebabkan kecelakaan disini. Tanah longsor salah satunya. Bila terjadi hujan deras seperti kemarin malam maka tak diragukan lagi akan ada tanah longsor di area ini, seperti yang terjadi saat ini di depan mobil kami.
Beberapa kendaraan telah mengantri untuk melewati jalan sempit yang tertutup sebagian oleh tanah dan pepohonan yang tumbang di tengah jalan.
“Selamat Datang di Kota Jeon-nam” begitu tulisan yang aku baca di pintu gerbang kota kecil ini.
Mungkin kota ini memang cocok dikategorikan sebagai kota kecil. Terlihat dari rumah-rumah penduduknya yang berdempetan berdampingan dengan gaya korea kuno. Mata pencaharian penduduknya sebagian besar sebagai nelayan. Mereka mencari ikan di danau Gwangje dan menjualnya ke kota Imsil dan kota sekitarnya.
“Permisi pak, dimanakah letak rumah sakit di kota ini?” Asisten Joon menghampiri seorang bapak tua yang sedang menjahit jaring di depan rumahnya.
Nampak istrinya disamping sedang memisahkan ikan tangkapan mereka dan meletakkannya sesuai dengan ukurannya. Aku cukup gugup saat ini, menanti cemas pertemuanku dengan Hye sun. Rokok ditanganpun tak mampu mengurangi kegugupanku.
Aku tak berani berharap semuanya akan baik-baik saja, terlalu naif bila ku katakan semuanya baik-baik, karena semua tak baik-baik. Asisten Joon kemudian membawa mobil ke arah jalan berbatu dan diujung jalan terlihat sebuah gedung bercat putih dikelilingi tetumbuhan sayur-mayur dan bunga-bungaan.
“Rumah Sakit Gongjong”
Inikah rumah sakit yang aku cari? Rumah sakit Hye sun berada? Tempatnya tinggal selama ini? Gedungnya begitu rapuh, atapnya lepas di tiap sudutnya. Catnya mulai berkelupas, beberapa kaca jendelanya telah pecah. Akupun menarik nafasku dalam-dalam, bersiap untuk menghadapi takdir yang akan menungguku di dalam gedung rumah sakit ini.
Advertisements

words from you

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s