Fifth Drama – Chapter 15

Sementara itu, sekitar 600 kilo meter dari Seoul, sebuah kota kecil yang masih belum terlalu banyak terhubung dengan dunia modern, berdiri sebuah rumah sakit sederhana yang tak lebih besar dari gedung sekolah di sana.
Peralatannya pun masih kuno dan sederhana. Hanya ada seorang dokter yang bertugas memeriksa semua pasien yang datang untuk berobat disana. Dibantu oleh empat orang perawat yang sebagian besar adalah ibu-ibu yang dilatih oleh dokter itu untuk membantunya.
Dokternya sendiri kini sudah berusia lima puluh tahun. Dia dulu bekerja di kota namun semenjak istrinya meninggal, dia memutuskan untuk pulang ke kotanya dan mendirikan sebuah rumah sakit kecil disana. Sudah hampir sepuluh tahun rumah sakit itu berdiri, disepetak lahan yang dipinjamkan oleh pemerintah setempat.

Hari ini tak banyak pasien yang datang untuk berobat, hanya sepasang lansia yang memeriksa gigi mereka yang sudah bolong-bolong, begitu juga seorang ibu dan anak balitanya yang sedang menimbang berat badannya. Tak banyak kegiatan disana. Meski ada beberapa pasien yang memang sudah lama tinggal disana karena belum juga sembuh.
Salah seorang diantaranya kini sedang memperhatikan anak-anak kecil yang sedang bermain di taman bermain di samping rumah sakit itu. Wajahnya teduh, meski gurat kesedihan tampak jelas dari sorot matanya yang letih. Dia sedang duduk di kursi roda, tangannya mengelus perutnya perlahan. Dia sedang hamil delapan bulan.
Perawat Min kemudian menghampirinya. Seorang wanita paruh baya yang keibuan dan sangat menyukai anak kecil. Dialah yang merawat Hye sun selama dia disini. Saat pertama kali Hye sun menginjakkan kakinya di kota kecil ini, perawat Min telah menyayangi nya seperti anaknya sendiri yang telah meninggal karena sakit.
Dia sangat rapuh, fisiknya yang lelah hampir saja membuatnya kehilangan bayinya bila dokter tak segera menolongnya. Setelah bertukar kendaraan sebanyak sepuluh kali untuk mencapai kota itu, Hye sun tak sanggup berdiri lagi. Penduduk desa menemukannya sedang terduduk lesu di sebuah kantor pos di samping halte bus.
Meski lambat laun kesehatannya telah pulih, dia menolak untuk memberitahu siapa ayah dari bayi yang ada di dalam kandungannya itu. Karena di kota kecil ini, dia tak punya siapa-siapa, akhirnya Hye sun tinggal di dalam rumah sakit dan terkadang dia menghabiskan waktunya dengan mengarang cerita yang dia kirimkan ke penerbit ataupun stasiun televisi.
“Ayo masuk ke kamar, nanti kamu masuk angin. Tak baik untuk si kecil” kata Perawat Min penuh kasih.
Hye sun mengangguk, mereka kemudian masuk ke dalam ruangan rumah sakit. Perawat Min mendorong kursi rodanya dari belakang.
~~~~
Saat ini aku merasa jiwaku melayang dari dalam tubuhku. Tak bertenaga. Semuanya cocok. Bila ku sambung-sambungkan, semuanya cocok. Jung Hye Sun.. bukankah itu nama wanita yang menangis histeris ketika mencoba menerobos masuk ke ruang perawatanku.
“Dia adalah penulis drama dan novel. Stasiun televisi kita juga sering menggunakan karya-karyanya. Waktu itu.. anda bersikeras meminta nomer telephonenya pada saya dan menanyakan segala hal mengenainya” kata Produser Choi.
Kami duduk disebuah bangku panjang di tepi danau. Produser Choi memberitahuku semua hal mengenai Hye sun. Namun dia tak tahu tentang seberapa jauh hubunganku dengan wanita itu. Dia juga tak tahu dimana wanita itu berada saat ini. Sejak drama “The Queen and I” selesai, mereka tak pernah berhubungan lagi.
Produser Choi pun berpamitan dan berjanji untuk mencari tahu keberadaan Hye sun untukku. Belasan puntung rokok berserakan dibawah kaki ku. Aku tak punya rokok lagi untuk kuhisap. Dengan gontai aku berdiri, melewati jalan setapak menuju tempat parkir mobilku. Jalan ini seperti pernah ku lalui sebelumnya. Suasana dikelilingnya sangat familiar, namun aku tak tahu apa yang aku cari disini.
Setelah membeli dua bungkus rokok dan sekaleng bir, aku pun berjalan kaki untuk melemaskan tubuhku yang kaku. Udara malam musim panas cukup dingin kali ini. Aku pun mengencangkan jas hitamku. Asap rokok membantu menghangatkan tubuhku.
Aku ingat tempat ini, disinilah lokasi kecelakaan mobilku dulu. Tiang hydrant yang bengkok masih berdiri sebagai saksi bisu dahsyatnya tabrakan itu. Saat itu aku sedang merokok ketika tiba-tiba truk pemadam kebakaran menabrak mbilku dengan keras.
Sebelum aku pingsan, tanganku sedang meraih sesuatu.. tapi apa yang aku raih?? Handphone? Aku akan menelepon seseorang waktu itu!! Sekelebat ingatan mulai muncul di kepalaku. Tanganku yang berlumuran darah mencoba untuk menjangkau handphone yang tergeletak tak jauh dari kaki ku. Namun badanku tak bisa digerakkan, tangan kananku kebas.
Aku pun berlari menuju mobilku, menginjak pedal gas ku dengan keras. Melaju mobilku dengan kencang, kerumahku. Ada yang harus aku periksa.
~~~~
“Dimana kamu letakan barang-barangku yang dikirimkan oleh rumah sakit?” tanya ku pada kepala pengurus rumahku.
“Ahh.. anda menyuruh saya untuk membuangnya tuan, tapi saya menaruhnya di gudang, karena saya melihat banyak barang berharga di dalamnya” jawab pengurus Jang ketakutan.
“Bantu aku mencarinya. Sekarang!!!” bentakku.
Sudah pukul satu dini hari ketika seluruh pembantu rumah tanggaku membongkar seisi gudang. Mereka mencari di dalam lemari, rak, kardus dan dimana saja benda itu mungkin berada.
“Kamu tak ingat meletakannya dimana?” tanya Pengurus Jang pada Geum Yong yang menerima paket itu dan meletakannya di dalam gudang.
“Ma..maaf pengurus Jang. Aku tak bisa mengingatnya, sejak enam bulan yang lalu gudang sudah penuh dan aku hanya menaruhnya sembarangan dan tak mengingatnya” jawab Geum Yong dengan ketakutan. Dia tak berani memandang wajahku.
Aku menghela nafas memikirkan semua kekacaun yang aku akibatkan. Dan kini, barang yang paling ingin aku lihat justru tak bisa ditemukan. Aku bahkan tak tahu rupanya seperti apa. Pakaianku kotor penuh debu, gudang ini harus dibersihkan sekali-sekali.
“Aku melihatnya..” kata seorang pembantu rumah tanggaku.
Akupun berlari mendekatinya, mengambil bungkusan yang ada ditangannya dan keluar dari sana. Aku tak memperdulikan pakaianku yang kotor. Di dalam ruang kerjaku, aku membuka bungkusan itu.
Pakaian yang berisi noda darah yang telah menghitam, sebungkus rokok yang masih penuh, sebuah dompet kulit berwarna hitam dengan uang jutaan won dan beberapa kartu kredit platinum, sebuah handphone yang tak bisa menyala lagi, mungkin aku masih bisa melihat nomer telephone yang tersimpan di dalam kartu SIM nya. Dan sebuah cincin emas…
Mataku terpaku pada cincin itu. Cincin yang identik dengan cincin yang ada di dalam amplop. Jantungku berdebar-debar ketika menggenggam cincin itu. Aku tak berani melihat tulisan yang terpahat di dalamnya. Ketika ku coba memasangkannya pada jari manisku, tak kuragukan lagi, ini memang cincinku.
“Jung Hye Sun”
Huruf yang terpahat rapi di bagian dalam cincin itu.
Hatiku mencelos, aku terjatuh dalam dudukku. Aku tak punya tenaga lagi untuk berpikir.
“Apa yang sudah aku lakukan, Tuhann..” tanganku bertumpu pada wajahku. Geram pada diriku sendiri.
Malam itu, di dalam ruang kerjaku yang dingin, aku berteriak mengeluarkan semua isi hatiku. Mengingat kembali dan merangkai semua puzzle yang ada.
“Lee Seung Ho.. kamu adalah laki-laki yang paling bodoh di dunia. Tapi aku mencintaimuuu!!!”
Semua ingatan menghunjam kepalaku dengan kejam. Pernyataan cinta Hye Sun.. malam yang kami habiskan bersama.. saat aku melamarnya.. ketika aku mengetahui Hye sun mengandung anakku.. ketika kami bercanda dengan celengan babi-babi itu.. berlomba-lomba untuk mengisi penuh setiap buahnya.. ketika dia memilih gaun pengantin kesukaannya.. ketika aku membuat sketsa rumah impian kami..
Dan ingatan lain menghantuiku kembali. Saat Hye sun menangis dan menyumpahiku dengan penuh kebencian.. saat aku mengeluarkan kata-kata paling hina yang bisa dikatakan oleh manusia.
Tangisku pecah, akupun meraung-raung bagai hewan yang terluka. Dadaku sakit seperti dikoyak pisau yang tajam. Aku pun memukuli dadaku. Segala caci-maki ku berikan pada diriku. Menyesali semua perbuatanku tak akan ada artinya sekarang. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi!!! Tuhan aku tak tahan lagi..
“Hye sun-ah..” rintihku lirih di sela tangisku yang semakin menghilang ditelan malam.
Keesokan harinya, pengurus Jang menemukanku berlutut memeluk kaki ku. Air mataku habis, bagai zombie yang sekarat, wajah ku pucat, tatapanku kosong. Jiwaku telah melayang pergi meninggalkanku. Aku tak tahu bagaimana akan melanjutkan hidupku. Karena tak ada kehidupan bila aku tak menemukan Hye sun ku lagi.. dan anak kami..
“Hye sun.. maafkan aku.. aku bersalah..”
Advertisements

One thought on “Fifth Drama – Chapter 15

words from you

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s